Hai Kamu!
Assalamu’alaikum, Pak. Sebutan khusus ku untuk mu karena kau telah merubah mindset ku dulu.
![]() |
Assalamu’alaikum, Pak. Sebutan khusus ku untuk mu karena kau telah merubah mindset ku dulu.
Apa yang bapak lakukan
sekarang? Aku hanya bisa melihat wajah mu di layar handphone ku. Aku jadi
teringat saat dua tahun silam, Pak. Saat itu aku datang bersama ke dua teman
sekolah ku untuk menemani mereka berdua mengambil keperluannya di suatu tempat.
Ingatan pertama kali melihat mu bertingkah aneh, konyol, dan ilfeel terekam
jelas sekarang di memori ku, Pak. Kau yang bertingkah layaknya dirimu yang
sebenarnya itu, pertama kali membuat ku merasa aneh melihat mu. Saat itu aku
dan dua teman ku hanya bisa melihat bapak bermain dengan asyiknya bersama
teman-teman mu yang beberapa nya dari sekolah ku.
Pak, aku saat ini
sedang melihat nomor kontak yang tertera di layar handphone ku. Nomor handphone
yang saat masa itu tiba-tiba mensms ku, memberitahu kan jadwal pertemuan kumpul
rapat event lagi. Biasanya, aku sangat antusias layaknya fans yang di balas
e-mail oleh idolanya ketika aku menerima kabar dari orang yang lumayan menarik
perhatian ku, tapi.. masa itu aku tidak merasakannya, pak. Sesuatu hal justru
berbeda, bagaikan siaran yang terus menerus diputar membuat jenuh yang
menerimanya, masa itu, pak, kau seperti itu. Tapi sekarang, pak, kau bagaikan
magnet bumi yang selalu menarik ku untuk terus melihat mu.
Pak, aku sekarang
terkejut menerima panggilan masuk tertulis jelas nama mu di layar ponsel ku.
Flashback. Aku teringat masa itu lagi, ketika itu aku merasa canggung, ketakutan,
bingung menjadi satu saat aku sendirian di tempat pertama kali aku berjumpa
dengan mu dengan tingkat aneh mu, pak. Saat itu, kau menelpon ku, mengatakan
bahwa kau akan datang terlambat karena ada urusan yang harus kau urus. Aku
mengingat jelas saat itu betapa bingung nya, aku harus melakukan apa dan
bagaimana saat itu. Berjumpa orang-orang asing yang membuat ku rishi. Dan di
tempat lain, suaru jelas juga memohon tunggu kehadiran mu untuk kau tunggu,
pak. Saat itu, suara penenang mu, membuat kepanikan ku berkurang, pak.
Pak, bapak, panggilan
itu mengingatkan hal pada masa itu. Saat itu kau sedang dalam masa-masa
pemilihan ketua organisasi selanjutnya dan kau menjadi calon untuk selanjutnya.
‘kayaknya gue akan manggil lo dengan sebutan ‘pak’ kalo lo kepilih nanti jadi ketua deh, nanti aja kalo menurut gue lo udah pantes, baru gue akan manggil lo dengan sebutan ‘pak’’.
Aku saat ini tersenyum sendiri mengingat memori itu. Kata ‘pak’, itu, keluar juga dari mulut ku karena kau telah membuktikan nya di hadapan konco-konco mu.
‘kayaknya gue akan manggil lo dengan sebutan ‘pak’ kalo lo kepilih nanti jadi ketua deh, nanti aja kalo menurut gue lo udah pantes, baru gue akan manggil lo dengan sebutan ‘pak’’.
Aku saat ini tersenyum sendiri mengingat memori itu. Kata ‘pak’, itu, keluar juga dari mulut ku karena kau telah membuktikan nya di hadapan konco-konco mu.
Aku menjawab panggilan
masuk dari mu sekarang.
“halo,
assalamu’alaikum..” suara mu mengawali nya,
“wa’alaikumsalam.. Dias?” jawab ku menanyakan apakah benar itu kau, pak.
“hahahaa.. iya, ini gue kok li” seketika lega, ternyata, pak, kau tidak mengganti nomor ponsel mu, suatu hal yang melegakan batin ini, pak.
“ada apa nih malem-malem nelpon?”
“ini gue mau ngundang ke acara penting gue besok, bisa dateng kan?” kali ini kau mengatakan ‘acara penting’ di telpon, penasaran, sekarang aku merasakan itu, pak.
“acara penting? Kita aja udah enggak pernah komunikasi lagi sejak dua tahun lalu” ya, dua tahun lalu saat kau wisuda, anak-anak dan aku merayakan hari kebahagiaan mu saat itu,
“hahahaaa.. iya juga sih tapi sekedar informasi aja kalau…” kenapa kau berhenti bicara, pak? Suara mu yang ku rindukan selama ini, pak.
“kalau…”
“kalau besok acara pertunangan ku dengan ‘pelangi’ ku li” jelas, sangat jelas sekali kata-kata mu, pak. Kau malam ini berhasil merusak mood ku, kau berhasil membuat dada ini sesak, kau berhasil membuat ku susah mengontrol emosi ku, pak.
“oh ya? Waah.. berita bagus Di, baiklah kalau begitu kau kabari via line, oke? Telpon ini harus ku mati kan sekarang. Assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam.. Dias?” jawab ku menanyakan apakah benar itu kau, pak.
“hahahaa.. iya, ini gue kok li” seketika lega, ternyata, pak, kau tidak mengganti nomor ponsel mu, suatu hal yang melegakan batin ini, pak.
“ada apa nih malem-malem nelpon?”
“ini gue mau ngundang ke acara penting gue besok, bisa dateng kan?” kali ini kau mengatakan ‘acara penting’ di telpon, penasaran, sekarang aku merasakan itu, pak.
“acara penting? Kita aja udah enggak pernah komunikasi lagi sejak dua tahun lalu” ya, dua tahun lalu saat kau wisuda, anak-anak dan aku merayakan hari kebahagiaan mu saat itu,
“hahahaaa.. iya juga sih tapi sekedar informasi aja kalau…” kenapa kau berhenti bicara, pak? Suara mu yang ku rindukan selama ini, pak.
“kalau…”
“kalau besok acara pertunangan ku dengan ‘pelangi’ ku li” jelas, sangat jelas sekali kata-kata mu, pak. Kau malam ini berhasil merusak mood ku, kau berhasil membuat dada ini sesak, kau berhasil membuat ku susah mengontrol emosi ku, pak.
“oh ya? Waah.. berita bagus Di, baiklah kalau begitu kau kabari via line, oke? Telpon ini harus ku mati kan sekarang. Assalamu’alaikum”
BIP.
Aku mematikan
panggilan itu. Pak, kau berhasil membawa ku ke awan-awan manis mu, kau berhasil
membawa hati ini mengikuti mu, kau berhasil membuat ku menyimpan perasaan lama
ini yang sudah lama hidup, dan kau juga berhasil yang membuat perasaam yang
lama ini mati seketika dengan satu kalimat bahwa kau akan bertunangan dengan
wanita ‘pelangi’ mu.
Terima kasih, pak,
ehm.. maksud ku seseorang yang kini telah harus ikhlas ku lepas dari genggaman
ku. Terima kasih sekali lagi, Dias Rifqi Muhammad. Moment-moment bersama mu
akan ku ingat selalu di memori ‘usang’ ku.

:'D Cieee
BalasHapusDuhh jadi gak enak :D
BalasHapusHahahah cerita pribadi atau bukan tuh ?
BalasHapushahaa :D hanya bercerita saja kok nis..
HapusCerita sambil curcol ya tun wkwkw:"D
BalasHapuswkwkwkk :D enggak kok yun, hanya bercerita aja hehee
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusCerpennya curhatan ya gan??
BalasHapusah biasa aja gan, cuma mau cerita-cerita aja heheee
Hapuscielah nyari nilai nih ?
BalasHapusiya nih lagi nyari nilai, tapi yg cerpen ini enggak termasuk cuma artikelnya aja hehee
HapusKeren... Ceritanya simpel dan sederhana tapi buat pembaca masuk kedalamnya
BalasHapusalhamdulillah.. terima kasih kak commentar nya hehee :D
HapusMasukannya nih, buat penulisan coba dilihat dari cerpen dari majalah ataupun dari novel. bagaimana penulisan dialog atau ngangkat klimaksnya lagi. tapi udah keren banget salut deh pertahankan yaa :D
BalasHapusterima kasih atas masukannya kak, bener-bener masukan yang bermanfaat.. hehee :D
Hapusalhamduliilah, saya pertahankan dan kembangin kok hehee XD
caelahh ka atun.. keren da ahh
BalasHapushahahhaaa makasih anisa fathonah.. :D
HapusKeren udah berani nulis. Tinggal banyak latihan, insyaallah makin bagus. Keep up 👌
BalasHapus