Rabu, 21 Januari 2015

CERPEN is TIME!

Hai Kamu!



Assalamu’alaikum, Pak. Sebutan khusus ku untuk mu karena kau telah merubah mindset ku dulu.
Apa yang bapak lakukan sekarang? Aku hanya bisa melihat wajah mu di layar handphone ku. Aku jadi teringat saat dua tahun silam, Pak. Saat itu aku datang bersama ke dua teman sekolah ku untuk menemani mereka berdua mengambil keperluannya di suatu tempat. Ingatan pertama kali melihat mu bertingkah aneh, konyol, dan ilfeel terekam jelas sekarang di memori ku, Pak. Kau yang bertingkah layaknya dirimu yang sebenarnya itu, pertama kali membuat ku merasa aneh melihat mu. Saat itu aku dan dua teman ku hanya bisa melihat bapak bermain dengan asyiknya bersama teman-teman mu yang beberapa nya dari sekolah ku.

Pak, aku saat ini sedang melihat nomor kontak yang tertera di layar handphone ku. Nomor handphone yang saat masa itu tiba-tiba mensms ku, memberitahu kan jadwal pertemuan kumpul rapat event lagi. Biasanya, aku sangat antusias layaknya fans yang di balas e-mail oleh idolanya ketika aku menerima kabar dari orang yang lumayan menarik perhatian ku, tapi.. masa itu aku tidak merasakannya, pak. Sesuatu hal justru berbeda, bagaikan siaran yang terus menerus diputar membuat jenuh yang menerimanya, masa itu, pak, kau seperti itu. Tapi sekarang, pak, kau bagaikan magnet bumi yang selalu menarik ku untuk terus melihat mu.

Pak, aku sekarang terkejut menerima panggilan masuk tertulis jelas nama mu di layar ponsel ku. Flashback. Aku teringat masa itu lagi, ketika itu aku merasa canggung, ketakutan, bingung menjadi satu saat aku sendirian di tempat pertama kali aku berjumpa dengan mu dengan tingkat aneh mu, pak. Saat itu, kau menelpon ku, mengatakan bahwa kau akan datang terlambat karena ada urusan yang harus kau urus. Aku mengingat jelas saat itu betapa bingung nya, aku harus melakukan apa dan bagaimana saat itu. Berjumpa orang-orang asing yang membuat ku rishi. Dan di tempat lain, suaru jelas juga memohon tunggu kehadiran mu untuk kau tunggu, pak. Saat itu, suara penenang mu, membuat kepanikan ku berkurang, pak.

Pak, bapak, panggilan itu mengingatkan hal pada masa itu. Saat itu kau sedang dalam masa-masa pemilihan ketua organisasi selanjutnya dan kau menjadi calon untuk selanjutnya.
kayaknya gue akan manggil lo dengan sebutan ‘pak’ kalo lo kepilih nanti jadi ketua deh, nanti aja kalo menurut gue lo udah pantes, baru gue akan manggil lo dengan sebutan ‘pak’’.
Aku saat ini tersenyum sendiri mengingat memori itu. Kata ‘pak’, itu, keluar juga dari mulut ku karena kau telah membuktikan nya di hadapan konco-konco mu.
Aku menjawab panggilan masuk dari mu sekarang.
“halo, assalamu’alaikum..” suara mu mengawali nya,
“wa’alaikumsalam.. Dias?” jawab ku menanyakan apakah benar itu kau, pak.
“hahahaa.. iya, ini gue kok li” seketika lega, ternyata, pak, kau tidak mengganti nomor ponsel mu, suatu hal yang melegakan batin ini, pak.
“ada apa nih malem-malem nelpon?”
“ini gue mau ngundang ke acara penting gue besok, bisa dateng kan?” kali ini kau mengatakan ‘acara penting’ di telpon, penasaran, sekarang aku merasakan itu, pak.
“acara penting? Kita aja udah enggak pernah komunikasi lagi sejak dua tahun lalu” ya, dua tahun lalu saat kau wisuda, anak-anak dan aku merayakan hari kebahagiaan mu saat itu,
“hahahaaa.. iya juga sih tapi sekedar informasi aja kalau…” kenapa kau berhenti bicara, pak? Suara mu yang ku rindukan selama ini, pak.
“kalau…”
“kalau besok acara pertunangan ku dengan ‘pelangi’ ku li” jelas, sangat jelas sekali kata-kata mu, pak. Kau malam ini berhasil merusak mood ku, kau berhasil membuat dada ini sesak, kau berhasil membuat ku susah mengontrol emosi ku, pak.
“oh ya? Waah.. berita bagus Di, baiklah kalau begitu kau kabari via line, oke? Telpon ini harus ku mati kan sekarang. Assalamu’alaikum”
BIP. 
Aku mematikan panggilan itu. Pak, kau berhasil membawa ku ke awan-awan manis mu, kau berhasil membawa hati ini mengikuti mu, kau berhasil membuat ku menyimpan perasaan lama ini yang sudah lama hidup, dan kau juga berhasil yang membuat perasaam yang lama ini mati seketika dengan satu kalimat bahwa kau akan bertunangan dengan wanita ‘pelangi’ mu.


Terima kasih, pak, ehm.. maksud ku seseorang yang kini telah harus ikhlas ku lepas dari genggaman ku. Terima kasih sekali lagi, Dias Rifqi Muhammad. Moment-moment bersama mu akan ku ingat selalu di memori ‘usang’ ku. 

18 komentar:

  1. Hahahah cerita pribadi atau bukan tuh ?

    BalasHapus
  2. Cerita sambil curcol ya tun wkwkw:"D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkk :D enggak kok yun, hanya bercerita aja hehee

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. ah biasa aja gan, cuma mau cerita-cerita aja heheee

      Hapus
  5. Balasan
    1. iya nih lagi nyari nilai, tapi yg cerpen ini enggak termasuk cuma artikelnya aja hehee

      Hapus
  6. Keren... Ceritanya simpel dan sederhana tapi buat pembaca masuk kedalamnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah.. terima kasih kak commentar nya hehee :D

      Hapus
  7. Masukannya nih, buat penulisan coba dilihat dari cerpen dari majalah ataupun dari novel. bagaimana penulisan dialog atau ngangkat klimaksnya lagi. tapi udah keren banget salut deh pertahankan yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas masukannya kak, bener-bener masukan yang bermanfaat.. hehee :D
      alhamduliilah, saya pertahankan dan kembangin kok hehee XD

      Hapus
  8. Keren udah berani nulis. Tinggal banyak latihan, insyaallah makin bagus. Keep up 👌

    BalasHapus